Minggu, 03 November 2013

Story of Love


“Cinta Tak Pasti”
Oleh : Tarida Nur Aryani

Sesaat setelah kejadian itu, tiada yang mampu lagi membuatya tersenyum tuk merasakan berartinya hidup ini. Semuanya telah sirna, tiada lagi yang bisa dia banggakan. Hidupnya bagai mimpi buruk yang membuatnya terpuruk menyaksikan pahitnya cinta. “Alya” teman-teman memanggilnya. Dia gadis yang polos, baik, suka berteman. Dia bersekolah di sebuah SMA di wilayah Malang. Awalnya dia punya seorang kekasih yang berada di Bandung, dia bernama Satrya.
Pada awalnya Alya sangat mencintai Satrya sejak SMP. Semenjak mereka dekat tak pernah diantara satupun dari mereka yang mengungkapkannya. Alya yang begitu mencintai Satrya hanya bisa memendam perasaan itu, dan mereka hanya menganggap semua itu seperti kakak dan adik saja. Sampai saat itu Alya dan Satrya harus berpisah karena Satrya harus melanjutkan sekolah SMAnya di Bandung, sedangkan Alya tetap berada di Malang.
Saat kelas X SMA Alya menemukan sesosok cowok yang mungkin bagi dia cowok itu yang dapat menggatikan posisi Satrya yang selama ini ada di hatinya. “Arga” namanya. Cowok itu sangat mencintai Alya dengan sepenuh hatinya. Arga cowok yang begitu setia. Sedangkan Alya ternyata masih menyipan sosok Satrya di dalam hatinya. Suatu saat Satrya menghubungi Alya.
“Hallo…?” sapa seorang cowok yang menelfon Alya.
“hallo… ini siapa ya?” Tanya Alya.
“masak si kamu gak kenal aku..?” Tanya cowok itu.
“bukannya gag kenal tapi aku gag tau ini nomornya siapa?” jawab Alya.
“Alya… ini aku Satrya… masih ingatkah denganku?” Tanya cowok itu.
“Satrya… benar ini kamu.. tentu saja aku ingat.. aku kira siapa, ternyata kamu yang nelfon aku..?” jawab Alya.
Iya.. gimana kabar kamu? Baik-baik sajakah?” Tanya Satrya.
“Iya aku baik-baik saja, kamu sendiri gimana sat? samakah?” Tanya Alya.
“Iya sama Al.. ya udah nanti aku SMS kamu aja ya?” jawab Satrya.
“okkeyyy!” jawab Alya,
Setelah kejadian itu Alya dan Satrya sering berkomunikasi. Kini mereka dekat lagi seperti dahulu meski jarak menghalangi mereka. Namun, cinta Alya kepada Satrya yang seharusnya sudah hilang karena telah ada Arga, malah kini tumbuh lagi. Alya begitu tulus mencintai Satrya yang menjadi cinta pertama untuknya. Bahkan semenjak kedekatan itu, hubungan antara Alya dengan Arga semakin renggang saja. Alya mengaku bahwa dirinya tidak mempunyai seorang pacar. Setelah beberapa minggu kemudian Alya berpacaran dengan Satrya, karena memang Satrya lah yang selama ini menjadi cinta pertamanya dan sangat dia cintai meski harus terpisah oleh jarak dan waktu. Kini tiba saatnya mereka berdua untuk berkata jujur yang sebenarnya dari dalam hati.
“ Sayang, aku mau Tanya??” Kata Satrya.
“ Tanya apa sayang?, katakana saja!” jawab Alya.
“ Kenapa sih kamu mau jadi pacar aku, sedangkan kita berada di daerah yang berbeda dan tentu ada jarak yang menghalangi kita, tapi kenapa mau, kamu disana pasti banyak kenalan cowok yang lebih dari aku kan???” kata Satrya.
“ Entah mengapa aku juga tak tau, selama ini aku hanya memendam perasaan yang aku bingung untuk aku jelaskan. Sebenarnya aku mencintai kamu sejak dulu, sejak kedekatan kita di SMP aku sudah sangat mencintaimu, tapi aku tiada berani tuk menyatakan itu, sayang” ujar Alya.
Setelah beberapa bulan Alya dan Satrya berpacaran, mungkin karena jarak jauh Satrya memiliki pacar lagi dan dia juga mantan Satrya di B        adung dulu. Satrya mengatakan yang sebenarnya kepada Alya dan akhirnya mereka putus. Semenjak itu Alya sering menangis dan termenung. Dia merasa kecewa karena seseorang yang sangat dia cintai dan berharap bisa menjadi yqang terakhir dalam hidupnya itu ternyata tega mengkhianati dan melukai hatinya. Semenjak itu dia tak pernah peduli dengan cowok-cowok yang selalu mendekatinya, mungkin karena dia merasa trauma.
Akhir bulan Oktober, Alya merasa mungkin dia harus bisa MOVE ON. Saat itu ada Ulangan Tengah Semester, dia dekat dengan salah satu teman sekelasnya namanya “Ivan” dia tinggi, cakep dan pintar. Alya merasa nyaman semenjak kenal sama dia. Saat itu pelajaran Bahasa Inggris dan anak-anak disuruh membuat sebuah drama dari cerita rakyat dan Alya satu kelompok dengan Ivan. Malam harinya Alya dan Ivan SMSan dan merencanakan sesuatu.
“ Alya, aku ingin bisa berdua sama kamu. “ kata Ivan.
“ Kenapa??? Kangen ya sama aku??” jawab Alya genit.
“ Iya… kapan ya bisa bareng sama kamu..??” Tanya Ivan.
“ Besok juga bisa kok,, asal kamu ngantar aku pulang..” sahut Alya.
“ Beneran,,?? Ya udah besok selesai buat drama, aku ngantar kamu pulang.” Ujar Ivan.
“ Ok…” jawab Alya.
Keesokan harinya setelah pulang sekolah Alya dan temannya 3 cewek dan 2 cowok pergi ke rumah Ivan untuk segera membuat drama tugas mereka itu. Namun rencana Alya dan Ivan semalam itu tidak terlaksana, karena ternyata siangnya motor Ivan dibawa pergi sama kakaknya. Dan akhirnya Alya diantar pulang sama Reza, temannya Ivan. Kedekatan mereka semakin hari semakin bertambah.
Suatu ketika, kiranya Ulangan Akhir Semester Alya merasa bahwa sikapIvan ke Alya sekarang berubah. Hari itu hari terakhir UAS, dan Alya merasa dirinya galau. Dia membuat sebuah ststus di akun FBnya “Kembali padanya untuk melupakanmu” dan ternyata Ivan mengetahuinya.Sepulang dari sekolah Ivan SMS Alya dan bertanya apa maksud dari status itu.
“ Aku kesindir kamu buat status kaya gitu..!!” kata Ivan.
“ Memangnya kenapa?? Kamu juga kayaknya udah berubah ke aku, sekian lama aku bertahan memendam rasa cinta ini, apa kamu tau..??? apa kamu merasakannya??” Tanya Alya.
“ Maafin aku ya.. aku gak bermaksud membuat kamu merasakan hal itu.. aku takut kalau aku jujur akan menyakiti hati kamu.. sebenarnya itu aku juga sayang banget sama kamu, tapi status aku masih mempunyai pacar.. aku gak mungkin selingkuh ya,, maafin aku ya..?? kata Ivan.
“ Kenapa kamu gak jujur dari awal,, kamu memilih membohongi aku dan menyakiti hati aku.. aku sadar kamu gak mungkin mencintai 2 cewek sekaligus,, ya sudah gak papa.. aku maafin kamu kok..” jawab Alya walaupun sebenarnya kecewa.
“ Maafin aku, aku tau aku salah. Tapi aku juga sayang sama kamu, dan aku juga tak ingin kehilangan dia. Maafin aku ya?” kata Ivan.
Dan pada akhirnya hubungan mereka berdua berakhir dan setelah kejadian itu sikap Alya ke Ivan berubah. Sejak acara Classmeeting Alya jarang masuk sekolah dan bersikap dingin seolah-olah tidak pernah kenal dengan Ivan. Pada saat itu Alya berharap sekali Ivan berangkat sekolah saat penerimaan raport, karena hari itu hari terakhir Alya di Malang. Keesokan harinya Alya akan pergi ke Bandung mengunjungi rumah neneknya. Dia berharap bisa bertemu dengan Ivan sebelum dia pergi ke Bandung, tapi ternyata tidak bertemu dan itu membuat Alya kecewa dan sedih. Semenjak berada di Bandung Alya selalu memikirkan Ivan yang berada di Malang.
Setelah libur selesai, Alya kembali ke Malang. Beberapa hari masuk sekolah tenyata Ivan berpacaran dengan anak kelas lain. Hati Alya sangat sakit dan kecewa dan dalam relung hatinya bertanya-tanya. “Apa sebenarnya yang Ivan inginkan, apa maksud perhatian yang selama ini dia berikan, untuk apa semua itu, setelah lama saling cinta tapi kenapa harus dengan oang lain”.  Rasa trauma Alya yang dulu telah hilang kini tumbuh lagi, dan semenjak itu Alya benar-benar malas dan takut untuk dekat sama cowok-cowok karena takut untuk terluka.
Setelah lama Alya tidak pernah berkomunikasi dengan mantan pacar yang sangat mencintainya, kini mereka bertemu lagi dan tumbuh lagi rasa cinta yang dulu, dan akhirnya mereka berdua kembali balikan. Seperti biasanya karena Alya dan Arga tidak satu sekolah tetai sekolah mereka berdekatan, mereka berdua sering pulang bareng. Meskipun Alya telah kembali bersama Arga namun dalam hati kecil Alya masih sangat mencintai Ivan, dan tidak dapat melupakan Ivan dalam waktu yang cepat.
Alya dan Ivan masih sering berkomunikasi meskipun sudah renggang, tetapi setelah satu minggu Alya balikan sama Arga, Ivan putus dengan pacarnya. Itu yang membuat Alya merasa kecewa karena telah terburu-buru mengambil keputusan. Namun beberapa hari kemudian Ivan memiliki pacar lagi yang berbeda sekolah bahkan ceweknya itu adalah senior. Hati Alya semakin merasa sakit karena kejadian itu. Semenjak itu Alya sama Ivan malah semakin dekat bahkan mereka sering kencan berdua, cinta diantara  mereka semakin kuat dan semakin dalam.
Saat kelas XI SMA ada study tour ke Bali, Alya tidak ikut sedangkan Ivan ikut. Ivan membelikan sebuah kaos sebagai kenang-kenangan yang diberikan kepada Alya.
“ Al, kamu ikut ke Bali gak?” tanya Ivan.
“ Aku gak ikut Van, kamu sendiri?” tanya Alya.
“ Iya, aku ikut kok. Kenapa kamu gak ikut?” tanya Ivan.
“ Aku malas, aku pingingnnya ke Lombok bukan ke Bali kok Van” jawab Alya.
“ Iya, indah itu. Nanti kalau kita udah nikah, bulan madu kita ke Lombok ya Al biar asyik”  Ujar Ivan.
“Iya Van, mudah-mudahan aja itu jadi kenyataan Van, aku berharap banget. Meskipun aku sudah punya pacar, tetapi rasa sayang aku ke kamu gak pernah surut Van, aku lebih cinta sama kamu disbanding dia, aku sudah berusaha melupakan kamu dan ternyata aku tak mampu Van. Setiap aku melakukannnya nyatanya aku malah semakin cinta sama kamu Van” kata Alya.
“ Aku juga seperi itu Al, aku pernah mimpi buruk tentang kita Al. Aku bermimpi bahwa aku melukaimu dan membuatmu menangis karna aku. Aku tak mau itu terjadi, aku berjanji Al sebisa mungkin untuk tidak melukai hati kamu dan akan selalu menjaga kamu, selalu ada saat kamu butuh selagi aku masih mampu Al” ujar Ivan.
“ Semoga yang kamu katakana itu benar Van”jawab Alya.
Hubungan mereka semakin dalam selayaknya seorang pacar. Janji yang Ivan ucapkan kepada Alya yang tak pernah bisa dilupakan oleh Alya dan membuat hati Alya merasa tenang setiap mengingat janji itu. Ivan sering kali main ke rumah Alya bahkan sudah akrab dengan keluarganya Alya. Namun seringkali Alya bersedih karna Ivan tanpa diketahui oleh Ivan.
Sejak kelas XII SMA hubungan mereka semakin dekat dan menunjukkan bahwa mereka tak ingin berpisah untuk selamanya meski Ivan mempunyai seorang kekasih yang mencintainya, tetapi cinta Alya ke Ivan juga tidak ada batasnya. Begitu tulus cinta yang Alya berikan sama Ivan, namun lama kelamaan Ivan mulai menghindar dari Alya, dia merasa bingung dengan hubungan yang sepeti ini. Hubungan yang seperti ini tidak mungkin akan terjadi untuk selamanya. Setiap perjumpaan selalu ada perpisahan entah suka maupun duka. Ivan berfikir untuk menjauhi Alya, karena dia merasa tidak nyaman jika terus menerus membagi cintanya.
“ Al, bolehkah aku bertanya padamu?” Tanya Ivan.
“ Iya Van, Tanya ap?” jawab Alya.
“ Tapi kamu harus jawab dengan jujur ya?” Tanya Ivan.
“ Iya Van pasti aku jujur kok.” ujar Alya.
“ Apakah kamu masih mencintai aku?” Tanya Ivan
“ Memangnya kenapa Van, kok kamu Tanya begitu?” sahut Alya.
“ Apakah kamu merasa kalau akhir-akhir ini sikap aku ke kamu itu berubah?” tanya Ivan.
“ Iya Van, aku merasakan semua itu, tetapi aku berusaha menyadarinya bahwa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.” jawab Alya.
“ Maafkan aku ya Al, aku tahu, aku banyak salah sama kamu. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaanku. Kenapa rasa cinta aku ke kamu yang dulu sangat besar kini semakin hari semakin surut. Kita tidak mungkin menjalani hubungan ini terus menerus, bagaimana kedepannya pun akan berubah, kita tak mungkin terus bersama, aku tidak mungkin ninggalin pacar aku, dia sangat sayang sama aku dan tidak ingin kehilangan aku.” kata Ivan.
“ Maafkan aku Van, mungkin aku yang terlalu egois, aku yang terlalu memaksa agar kita selalu bersama. Aku sadar walau sebenarnya itu tak mungkin terjadi, namun entah mengapa aku selalu ingin bersamamu, kamu yang telah mengubah duniaku, kamu yang telah menghidupkan kembali cintaku yang pernah mati, kamu yang mampu membuat aku berani mengenal cinta lagi, dan bahkan kamu yangbisa membuat aku melupakan Satrya.” kata Alya.
“ Aku tahu Al, aku juga bingung dalam keadaan yang seperti ini, maafkan aku jika sering melukai hati kamu. Aku tahu aku yang banyak bersalah dalam hubungan ini.” kata Ivan.
“ Iya Van aku tahu semua itu, selama ini aku selalu berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkan semua persaan aku ke kamu, tapi ternyata itu sulit bahkan aku tak bisa melakukan semua itu. Setiap kali aku mencobanya, anehnya yang terjadi malah aku semakin cinta dan sayang sama kamu. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri, aku itu tak mudah untuk melupakan seseorang, mungkin aku hanya bisa melupakan kamu setelah kita lulus SMA dan gak pernah ketemu karna kita melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang berbeda.” ujar Alya.
“ Iya, tetapi meski jauh, gak pernah ketemu selama perasaan itu masih ada, kita tidak dapat secepat itu melupakan orang yang kita cintai, butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakannya.” kata Ivan.
“ Iya, terserah kamu saja, mau seperti apa kelanjutannya, aku hanya tidak ingin menjadi beban buat kamu Van.” kata Alya.
“ Ya sudah, kita jalani saja dulu semua ini, kedepannya sudah ada yang mengatur semuanya.” ujar Ivan.
Suatu hari ketika menjelang hari ulang tahun Ivan, Alya selau mencarikan kado yang sangat tepat dan terdapat unsure-unsur warna yang sangat disukai oleh Ivan, yaitu warna Biru dan Hitam. Alya mengirim pesan ucapan selamat ulang tahun kepada Ivan, dan memberikan kado tersebut ketika mereka bertemu saat pulang sekolah.
Akhirnya hubungan mereka berdua belum berakhir sampai disini saja. Mereka masih sering bertemu dan berduaan dan Ivan bahkan makin sering main ke rumah Alya. Mereka sering jalan berdua kemana-mana. Tetapi mereka juga sering bertengkar hanya karena masalah yang sepele saja. Bahkan pada suatu hari Alya dan Ivan jalan berdua. Namun keesokan harinya entah apa yang membuat sikap Ivan berubah, dia jarang menghubungi Alya. Itu membuat hati Alya bertanya-tanya dan bersedih sampai dia menangis. Di sekolah pun Alya menagis terus setiap melihat Ivan. Dia tak kuasa menahan air mata yang melukiskan kesedihan pada hatinya.
Sebulan setelah kejadian itu hubungan mereka kembali membaik dan mereka merencanakan untuk bertemu dirumah teman Alya yang bernama Siva. Karena pada hari itu Alya akan menginap dirumah Siva, Ivan datang ke rumah Siva sore hari setelah Asyar. Alya dan Ivan duduk diruang tamu dan berbincang-bincang, sedangkan Siva menonton televise bersama adiknya. Setelah berbincang-bincang dan bercanda dengan Ivan, tiba-tiba suasana menjadi berbeda dan akhirnya Alya menagis karena pertanyaan-pertanyaan dari Ivan.
“ Al, apa kamu masih cinta sama aku..??? aku bingung Al dengan hubungan kita, aku takut menyakiti kamu nantinya.” kata Ivan.
“ Aku juga bingung Van, aku tahu aku itu terlalu egois dengan semua ini, seharusnya ini sudah berakhir sejak dulu dan aku merelakan kamu bersama orang yang lebis bisa buat kamu bahagia.” ujar Alya.
“ Bukan seperti itu maksud aku Al, aku hanya berfikir kedepannya, kita gak mungkin akan seperti ini terus menerus. Aku sudah punya pacar dan aku tak mungkin meninggalkannya.” kata Ivan.
“ Aku tahu itu Van, aku bingung Van.” ujar Alya.
“ Jawab jujur Al, kamu masih cinta gak sama aku, tolong jujur?” tanya Ivan.
“ Tolong Van jangan tanya soal itu, aku gak mau bahas tentang semua itu.” Alya menjawabnya dengan mata berbinar seakan-akan mau menangis.
Alya pun kemudian diam saja dan menangis terus hingga tak mampu menatap Ivan yang bingung dengan semua yang terjadi diantara mereka. Ivan berusaha menenangkan hati Alya namun ternyata Alya tidak menghiraukannya malah ia semakin menangis tersedu. Perasaan Alya sangat terluka waktu itu, bahkan itu pertama kalinya ia menagis didepan seorang cowok yang sangat dia cintainya.
“ Kamu jangan nagis terus Al, aku jadi semakin bingung apa yang harus aku lakukan Al, maafkan aku Al, aku gak bermaksud membuat kamu menangis, aku sayang kamu Al, maafin aku Al, sudah dong jangan nangis terus.” kata Ivan
Namun Alya tetap saja menangis tersedu, Ivan berusaha menenangkannya dia memeluk Alya dengan erat menyuruh Alya agar berhenti menangis dan menghapus air matanya. Tetapi Alya tidak berhenti menangis bahkan ia berusaha melepas pelukan Ivan. Waktu telah menunjukkan pukul 17.35, Alya menyuruh Ivan segera pulang.
“ Sudah kamu pulang saja sana.!! Sudah hampir maghrib.” suruh Alya.
“ Aku gak akan pulang sebelum kamu berhenti menangis Al, aku merasa bersalah banget.” jawab Ivan.
“ Aku gak apa-apa kok, lebih baik kamu pulang aja. Aku baik-baik saja.” kata Alya.
“ Nggak Al, kamu gak bisa bohong ke kamu, maafin aku ya Al..???” tanya Ivan.
“ Iya aku maafin kamu kok..” jawab Alya.
“ Makasih ya Al, senyum dong.!!” kata Ivan.
Alya pun kini kembali tersenyum dalam pelukan Ivan, akhirnya apapun cara Ivan buat menghibur Alya akhirnya berhasil juga. Alya tidak mungkin marah sama Ivan, karena dia sangat mencintai Ivan. Seberapa besar kesalahan Ivan selalu saja Alya memaafkannya, meskipun itu hal yang membuat Alya terluka.
Hubungan merekapun kembali membaik hingga saat menjenlang Ujian Nasional tiba. Alya mendaftar ke perguruan tinggi sama dengan yang dituju dengan Ivan juga, namun beda jurusan, Pada awalnya Alya dan Ivan sama-sama anak yang pintar disekolah. Alya lebih pintar dalam hal menghitung terutama mata pelajaran Matematika, sedangkan Ivan lebih ke Akuntansi.
Ujian telah tiba, kini telah berada diujung perpisahan diantara mereka dalam waktu yang sangat lama. Pengumuman kelulusan telah didepan mata, dan akhirnya mereka berdua sama-sama lulus. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru pun tiba, IAlya di terima di UNY, sedangkan Ivan tidak diterima di perguruan tinggi yang dipilihnya. Alya sangat sedih karena tidak bisa bersama lagi dengan Ivan, padahal kemanapun Ivan pergin Alya ingin selalu bersamanya. Suatu hari ketika Alya bersama Ivan, Ivan menanyakan hal itu.
“ Selamat ya kamu telah diterima di perguruan tinggi yang kamu inginkan,” kata Ivan.
“ Iya Van, makasih ya. Kamu juga jangan menyerah meski kamu belum diterima, masih ada 2 kesempatan lagi dan mudah-mudahan kamu bisa diterima dimana yang telah kamu inginkan.” kata Alya.
“ Iya, aku pasti akan berusaha sebisa mungkin. Apakah kamu yakin akan kuliah di Jogja?” tanya Ivan dengan tatapan seolah-olah melarang Alya kuliah di Jogja.
“ Aku sangat yakin Van, itu sudah menjadi keinginanku sejak dulu.” jawab Alya sambil tersenyum walau pun sebenarnya sangat berat untuk jauh dari Ivan.
“ Ok, semangat ya.!” ujar Ivan.
“ Iya makasih ya Van, kamu juga.” jawab Alya.
“ Iya Sayang.” kata Ivan sambil mencium kening Alya.
Setelah itu, karena sudah selesai ujian dan sudah ada pengumuman kelulusan dan jarang masuk sekolah, kini Alya dan Ivan jarang bertemu karena sibuk sendiri-sendiri dalam melakukan proses pendaftaran di perguruan tinggi. Alya sering pergi ke Jogja untuk menyelesaikan proses pendaftarannya di UNY. Suatu hari Ivan mengatakan bahwa dia kangen dan ingin bertemu dengan Alya, karena mungkin memang saat itulah saat-saat mereka harus benar-benar berpisah untuk menjalani masa depan yang berbeda dan melepaskan cinta masing-masing yang telah dijalani selama setahun lebih.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar